Resensi
Novel Layar Terkembang
A. Identitas
Novel
Judul : Layar Terkembang
Penulis :
Sutan Takdir Alisjahbana
Penerbit
: PT BALAI PUSTAKA
Kota
terbit : Jalan Gunung Sahari Raya
No.4, Jakarta 10710
Tahun
terbit : 2006
B. Kepengarangan
Sutan Takdir Alisjahbana
dilahirkan dirawan Natal, 11 Februari 1908. Tahun 1915-1921 belliau menempuh pendidikan HIS,
tahun 1921-1925 menempuh pendidikan Kweekschool di Bukittinggi, yang kemudian
dilanjutkan ke Hogere Kweekschool di Bandung, tahun 1937-1942 beliau menjalani
pendidikan di Jakarta, tahun 1940-1942 beliau menerima pendidikan di Fakultas
Sastra, tahun 1979 beliau memperoleh gelar Doctor Honoris Causa untuk Ilmu
Bahasa dari Universitas Indonesia, dan pada tahun 1987 beliau memperoleh gelar
Doctor Honoris Causa untuk Ilmu Sastra dari Universitas Sains Malaysia.
Karya-karya Sutan Takdir Alisjahbana yaitu: Tak Putus Dirundung Malang, Dian
yang Tak Kunjung Padam, Anak Perawan, di Sarang
Penyamin, Grotta Azzura, Tebaran Mega, Lagu Pemacu Ombak, Perempuan di
Persimpangan Zaman, dan Kebangkitan.
C. Sinopsis
Mengisahkan kehidupan dua bersaudara yang bernama Maria dan Tuti anak
dari Raden Wiriatmadja. Tuti adalah anak sulung sedangkan Maria adalah anak
bungsu. Sejak lama Ibu mereka telah meninggal dunia. Meskipun mereka adik
kakak, mereka memiliki watak yang sangat berbeda satu dengan yang lain. Tuti si
sulung adalah seorang gadis yang tegap, kukuh pendiriannya, jarang sekali
memuji, dan aktif dalam berbagai organisasi-organisasi wanita. Sementara Maria
adalah gadis polos yang periang, lincah, dan mudah kagum dengan seseorang,
serta suka berbicara tanpa berpikir panjang.
Pada hari Minggu Tuti dan Maria pergi ke akuarium yang ada di
pasar ikan. Di tempat itu mereka bertemu dengan seorang pemuda yang tinggi
badannya dan berkulit kuning langsat, berpakaian putih berdasi kupu-kupu, dan
memakai peci berwarna hitam. Mereka bertemu ketika hendak meninggalkan pasar.
Pada saat itu mereka berbincang-bincang
dan berkenalan. Hingga mereka pun saling akrab Nama pemuda itu adalah Yusuf,
dia adalah seorang mahasiswa sekolah tinggi kedokteran. Sementara Maria adalah
murid H.B.S Corpentier Alting Stichting dan Tuti adalah seorang guru di sekolah
H.I.S Arjuna di Petojo. Mereka berbincang samapai-sampai mereka tidak sadar
telah berada di depan rumah Tuti dan Maria.
Yusuf
adalah putra dari Demang Munaf di Matapura, Sumatra Selatan. Semenjak pertemuan
itu Yusuf selalu terbayang-bayang kedua gadis yang ia temui di akuarium.,
terutama Maria. Yusuf telah jatuh cinta kepada Maria sejak pertama kali
bertemu, bahkan dia berharap untuk bisa bertemu lagi dengannya. Tidak disangka
oleh Yusuf, keesokan harinya dia bertemu lagi di depan hotel Des Indes.
Semenjak pertemuan keduanya itu, Yusuf mulai sering
menjemput Maria untuk berangkat sekolah serta dia juga sudah mulai berani
berkunjung ke rumah Maria. Sementara itu Tuti dan ayahnya melihat hubungan
kedua remaja itu tampak bukan lagi hubungan persahabatan biasa. Tuti sendiri terus disibukan oleh kegiatan-kegiatannya dalam kongres
Putri Sedar yang diadakan di Jakarta, dia sempat berpidato yang isinya
membicarakan tentang emansipasi wanita. Tuti dikenal sebagai seorang wanita
yang sangat mampu dalam memotivasi setiap orang. Dia sangat bijak dalam
menyampaikan setiap nasihat-nasihatnya, sehingga membuat pendengarnya
termotivasi dalam hal itu.. Sesudah ujian doctoral pertama dan kedua
berturut-turut hingga selesai, Yusuf pulang ke rumah orang tuanya di Martapura,
Sumatra Selatan. Selama berlibur Yusuf
dan Maria saling mengirim surat, dalam
surat tersebut Maria mengatakan kalau dia dan Tuti telah pindah ke Bandung.
Kegiatan surat menyurat tersebut membuat Yusuf semakin merindukan Maria.
Sehingga pada akhirnya Yusuf memutuskan untuk segera kembali ke Jakarta dan ke
Bandung untuk mengunjungi Maria. Kedatangan Yusuf disambut hangat oleh Maria
dan Tuti. Setelah itu Yusuf mengajak Maria berjalan-jalan ke air terjun Dago,
tetapi Tuti tidak dapat meninggalkan kesibukannya dia tetap sejak dengan
kegiatannya sendiri. Ketika Yusuf dan Maria datang kesuatu
tempat, di tempat itu Yusuf menyatakan perasaan cintanya kepada Maria. Setelah
kejadian itu, kelakuan Maria berubah. Percakapannya selalu tentang Yusuf saja,
Ingatannya sering tidak menentu, dan sering melamun, Sehingga Rukamah sering
mengganggunya. Sementara hari-hari Maria penuh kehangatan bersama Yusuf, Tuti
sendiri lebih banyak membaca buku. Sebenarnya pikiran Tuti terganggu oleh
keinginannya untuk merasakan kemesraan cinta. Melihat kemesraan Maria dan
Yusuf, Tuti pun ingin mengalaminya. Tetapi Tuti juga memiliki kekhawatiran
terhadap hubungan Maria dan Yusuf. Kemudian
Tuti menasehati Maria agar jangan sampai dihanyutkan oleh cinta agar tidak ada
penyesalan kelak. Nasihat yang diberikan Maria justru memicu pertengkaran
diantara mereka dan memberikan pukulan keras terhadap Tuti. Dari kejadian itu, Tuti sama sekali tidak berbicara dengan Maria,
mereka tidak akrab seperti dulu lagi. Semua tampak berbeda Tuti merasa sendiri
dan sepi dalam kehidupannya. Ketika Maria mendadak terkena penyakit malaria dan
TBC, Tuti pun kembali memperhatikan Maria, Tuti menjaganya dengan sabar. Pada
saat itu juga adik Supomo datang atas perintah Supomo untuk meminta jawaban
pernyataan cintanya kepada Tuti. Sebenarnya Tuti sudah ingin memiliki seorang
kekasih, tetapi Supomo dipandangnya bukan pria idaman yang diinginkan Tuti.
Maka dengan segera Tuti menulis surat penolakan. Sementara itu, keadaan Maria semakin hari makin
bertambah parah. Kemudian ayahnya, Tuti, dan Yusuf memutuskan untuk merawatnya
di rumah sakit. Dokter yang merawatnya menyarankan agar Maria dibawa ke rumah
sakit khusus penderita penyakit TBC wanita di Pacet, Sindanglaya Jawa Barat.
Perawatan Maria sudah berjalan sebulan lebih lamanya. Namun keadaannya tidak
juga mengalami perubahan, yang terjadi adalah kondisi Maria semakin lemah.
Pada
suatu hari, Tuti dan Yusuf berlibur di rumah Ratna dan Saleh di Sindanglaya,
disitulah Tuti mulai terbuka dalam memandang kehidupan di pedesaan. Kehidupan
suami istri yang melewati hari-harinya dengan bercocok tanam, ternyata juga
mampu membimbing masyarakat sekitarnya menjadi sadar akan pentingnya
pendidikan. Keadaan tersebut benar-benar telah menggugah alam pikiran Tuti. Ia
menyadari bahwa kehidupan mulia, mengabdi kepada masyarakat tidak hanya dapat
dilakukan di kota atau dalam kegiatan-kegiatan organisasi, sebagaimana yang
selama ini ia lakukan. Tetapi juga di desa atau di masyarakat mana pun,
pengabdian itu dapat dilakukan. Semakin hari hubungan Yusuf dan Tuti semakin
akrab, sementara itu kondisi kesehatan Maria justru semakin mengkhawatirkan.
Dokter yang merawatnya pun sudah tidak dapat berbuat lebih banyak lagi. Pada
saat kritis Maria mengatakan sesuatu sebelum ia meninggal, yaitu ingin melihat
Tuti dan Yusuf hidup bahagia bersama. Akhirnya Yusuf dan Tuti bertunangan.
D. Unsur
Instrinsik Novel
A. Tema
Perjuangan Wanita dan
Percintaan.
B. Tokoh
1.Maria (Anak
bungsu Raden Wiriaatmaja)
· Wataknya
: Mudah kagum
“Mudah memuji dan memuja, lincah
dan periang terlihat pada kutipan, “Sebaliknya maria seseorang yang mudah kagum,
yang mudah memuji dan memuja. Sebelum selesai benar ia berpikir, ucapannya
telah keluar menyatakan perasaannya yang bergelora, baik girang maupun waktu
kedukaan.”
2.Tuti (Anak sulung Raden Wiriaatmaja)
· Wataknya : Tidak mudah kagum
“Tuti bukan seorang yang mudah kagum, yang
mudah heran melihat sesuatu.”
3.Yusuf (Putra Demang Munaf di Mertapura)
Wataknya : Patuh
“Melihat bundanya bersungguh-sungguh dan mencoba
menahannya, hati Yusuf
lemah
sehingga diturutkannya kehendak bundanya menunda berangkat beberapa hari.”
4.Raden Wiriaatmaja (Ayah dari Maria dan Tuti)
· Wataknya : Penyayang,
“Memaksa anaknya itu
menurut kehendaknya tiada sampai hatinya, sebab sayangnya kepada Tuti dan Maria”
5.Juru rawat
Wataknya : Baik hati,
“Kepada
Maria juru rawat yang baik budi itu berkati membesarkan hati, “Sekarang tinggal
kita saja lagi. Kita akan dapat main dam lagi seperti dahulu. Benar tidak,
Maria?”
C. Latar/setting
Tempat : Rumah Wiriaatmaja
“Tuti duduk di ruang dalam,
menghadap meja membaca buku. Sejak dari pukul 17.00 Wib, karena ayahnya pergi ke rumah temannya di
Gang Ketapang,sedangkan maria pergi main tennis.”
Waktu : Pagi.
“Pukul 07.00 Wib mereka bertolak dari rumah
dan menuju gedumg aquarium pagi-pagi itu.”
Suasana
: Kesal
“Ya, suruh
Tuti membuatnya, “kata Maria yang sebenarnya mengerti maksud kakanya itu,
tetapi masih juga hendak panas hatinya akan
celaan saudaranya itu”
Alur : Maju
Didalam
novel ini terdapat alur Maju, diawali dari:
Perkenalan
Saat di gedung akurium Yusuf bertemu dengan Maria dan Tuti.
Konflik
Konflik
Maria dan
Tuti bertengkar hebat. Pertengkaran itu disebabkan kritikan pedas Tuti
Penyelesaian
Akhirnya
Tuti dan Yusuf menuruti permintaan terakhir Maria. Mereka berdua menikah.
D.
Sudut Pandang
Orang
ketiga yang ditandai dengan menggunakan nama dalam menyebutkan tokoh-tokohnya.
“Berat Tuti dan Yusuf mengangkat badannya
dari meja sesudah makan malam”
E. Amanat
Perempuan
harus memiliki pengetahuan yang luas sehingga dapat memberikan pengaruh yang
sangat besar didalam kehidupan, dengan demikian perempuan dapat lebih dihargai
kedudukannya.
Pandangan
seseorang mengenai kebahagiaan itu berbeda-beda. Jadi, kita harus mengikuti
kata hati kita untuk mendapatkan kebahagian tersebut.
F. Gaya bahasa
Bahasa
yang digunakan adalah bahasa Melayu.
G. Keunggulan
Keunggulan dari novel ini adalah
cerita yang disuguhkan kepada pembaca sangat menarik , kisah cinta Yusuf, Tuti
dan Maria sangat menarik untuk diikuti.
H. Kelemahan
Bahasa yang digunakan dalam novel Layar Terkembang susah dimengerti karena banyak menggunakan bahasa-bahasa lama.
Bahasa yang digunakan dalam novel Layar Terkembang susah dimengerti karena banyak menggunakan bahasa-bahasa lama.
E. Unsur Ekstrinsik:
1.
Nilai sosial :
Novel inni
menceritakan bahwa sesama manusia, apalagi sesama kaum pelajar harus saling
membantu. Bantuan itu dapat berupa beasiswa bagi pelajar yang kurang mampu.
2.
Nilai Agama :
Kita
menjalankan perintah agama dimulai dari sekarang juga, tidak harus menunggu hari tua.
3. Nilai Moral :
Mencintai
seseorang bukan hanya tentang rupa dan kemapanannya, tapi tentang
mengikhlaskannya untuk bahagia. “Sebelum
Maria meninggal ia sempat memikirkan kebahagian kakak dan pacarnya sampai
berpesan agar Tuti kakaknya menikah dengan Yusuf pacarnya.”
Kesimpulan
Novel ini dapat
mengajarkan kita untuk lebih mudah menghadapi segala permasalahan hidup. Novel
ini baik dibaca oleh siapapun. Terkhusus oleh para orang tua, guru, anak dan
sebagainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar