Senin, 14 November 2016

Resensi Novel Layar Terkambang(sari,dewi dan jayatri)

Resensi Novel Layar Terkembang
A.    Identitas Novel
Judul               : Layar Terkembang
Penulis            : Sutan Takdir Alisjahbana
Penerbit           : PT BALAI PUSTAKA
Kota terbit       : Jalan Gunung Sahari Raya No.4, Jakarta 10710
Tahun terbit     : 2006
B.     Kepengarangan        
Sutan Takdir Alisjahbana dilahirkan dirawan Natal, 11 Februari 1908. Tahun  1915-1921 belliau menempuh pendidikan HIS, tahun 1921-1925 menempuh pendidikan Kweekschool di Bukittinggi, yang kemudian dilanjutkan ke Hogere Kweekschool di Bandung, tahun 1937-1942 beliau menjalani pendidikan di Jakarta, tahun 1940-1942 beliau menerima pendidikan di Fakultas Sastra, tahun 1979 beliau memperoleh gelar Doctor Honoris Causa untuk Ilmu Bahasa dari Universitas Indonesia, dan pada tahun 1987 beliau memperoleh gelar Doctor Honoris Causa untuk Ilmu Sastra dari Universitas Sains Malaysia. Karya-karya Sutan Takdir Alisjahbana yaitu: Tak Putus Dirundung Malang, Dian yang Tak Kunjung Padam, Anak Perawan, di Sarang  Penyamin, Grotta Azzura, Tebaran Mega, Lagu Pemacu Ombak, Perempuan di Persimpangan Zaman, dan Kebangkitan.
C.    Sinopsis
Mengisahkan kehidupan dua bersaudara yang bernama Maria dan Tuti anak dari Raden Wiriatmadja. Tuti adalah anak sulung sedangkan Maria adalah anak bungsu. Sejak lama Ibu mereka telah meninggal dunia. Meskipun mereka adik kakak, mereka memiliki watak yang sangat berbeda satu dengan yang lain. Tuti si sulung adalah seorang gadis yang tegap, kukuh pendiriannya, jarang sekali memuji, dan aktif dalam berbagai organisasi-organisasi wanita. Sementara Maria adalah gadis polos yang periang, lincah, dan mudah kagum dengan seseorang, serta suka berbicara tanpa berpikir panjang.
 Pada hari Minggu Tuti dan Maria pergi ke akuarium yang ada di pasar ikan. Di tempat itu mereka bertemu dengan seorang pemuda yang tinggi badannya dan berkulit kuning langsat, berpakaian putih berdasi kupu-kupu, dan memakai peci berwarna hitam. Mereka bertemu ketika hendak meninggalkan pasar. Pada saat itu  mereka berbincang-bincang dan berkenalan. Hingga mereka pun saling akrab Nama pemuda itu adalah Yusuf, dia adalah seorang mahasiswa sekolah tinggi kedokteran. Sementara Maria adalah murid H.B.S Corpentier Alting Stichting dan Tuti adalah seorang guru di sekolah H.I.S Arjuna di Petojo. Mereka berbincang samapai-sampai mereka tidak sadar telah berada di depan rumah Tuti dan Maria.
           Yusuf adalah putra dari Demang Munaf di Matapura, Sumatra Selatan. Semenjak pertemuan itu Yusuf selalu terbayang-bayang kedua gadis yang ia temui di akuarium., terutama Maria. Yusuf telah jatuh cinta kepada Maria sejak pertama kali bertemu, bahkan dia berharap untuk bisa bertemu lagi dengannya. Tidak disangka oleh Yusuf, keesokan harinya dia bertemu lagi di depan hotel Des Indes. Semenjak pertemuan  keduanya itu, Yusuf mulai sering menjemput Maria untuk berangkat sekolah serta dia juga sudah mulai berani berkunjung ke rumah Maria. Sementara itu Tuti dan ayahnya melihat hubungan kedua remaja itu tampak bukan lagi hubungan persahabatan biasa. Tuti sendiri terus disibukan oleh kegiatan-kegiatannya dalam kongres Putri Sedar yang diadakan di Jakarta, dia sempat berpidato yang isinya membicarakan tentang emansipasi wanita. Tuti dikenal sebagai seorang wanita yang sangat mampu dalam memotivasi setiap orang. Dia sangat bijak dalam menyampaikan setiap nasihat-nasihatnya, sehingga membuat pendengarnya termotivasi dalam hal itu.. Sesudah ujian doctoral pertama dan kedua berturut-turut hingga selesai, Yusuf pulang ke rumah orang tuanya di Martapura, Sumatra Selatan. Selama  berlibur Yusuf dan Maria saling  mengirim surat, dalam surat tersebut Maria mengatakan kalau dia dan Tuti telah pindah ke Bandung. Kegiatan surat menyurat tersebut membuat Yusuf semakin merindukan Maria. Sehingga pada akhirnya Yusuf memutuskan untuk segera kembali ke Jakarta dan ke Bandung untuk mengunjungi Maria. Kedatangan Yusuf disambut hangat oleh Maria dan Tuti. Setelah itu Yusuf mengajak Maria berjalan-jalan ke air terjun Dago, tetapi Tuti tidak dapat meninggalkan kesibukannya dia tetap sejak dengan kegiatannya sendiri. Ketika Yusuf dan Maria datang kesuatu tempat, di tempat itu Yusuf menyatakan perasaan cintanya kepada Maria. Setelah kejadian itu, kelakuan Maria berubah. Percakapannya selalu tentang Yusuf saja, Ingatannya sering tidak menentu, dan sering melamun, Sehingga Rukamah sering mengganggunya. Sementara hari-hari Maria penuh kehangatan bersama Yusuf, Tuti sendiri lebih banyak membaca buku. Sebenarnya pikiran Tuti terganggu oleh keinginannya untuk merasakan kemesraan cinta. Melihat kemesraan Maria dan Yusuf, Tuti pun ingin mengalaminya. Tetapi Tuti juga memiliki kekhawatiran terhadap  hubungan Maria dan Yusuf. Kemudian Tuti menasehati Maria agar jangan sampai dihanyutkan oleh cinta agar tidak ada penyesalan kelak. Nasihat yang diberikan Maria justru memicu pertengkaran diantara mereka dan memberikan pukulan keras terhadap Tuti. Dari kejadian itu, Tuti sama sekali tidak berbicara dengan Maria, mereka tidak akrab seperti dulu lagi. Semua tampak berbeda Tuti merasa sendiri dan sepi dalam kehidupannya. Ketika Maria mendadak terkena penyakit malaria dan TBC, Tuti pun kembali memperhatikan Maria, Tuti menjaganya dengan sabar. Pada saat itu juga adik Supomo datang atas perintah Supomo untuk meminta jawaban pernyataan cintanya kepada Tuti. Sebenarnya Tuti sudah ingin memiliki seorang kekasih, tetapi Supomo dipandangnya bukan pria idaman yang diinginkan Tuti. Maka dengan segera Tuti menulis surat penolakan. Sementara itu, keadaan Maria semakin hari makin bertambah parah. Kemudian ayahnya, Tuti, dan Yusuf memutuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Dokter yang merawatnya menyarankan agar Maria dibawa ke rumah sakit khusus penderita penyakit TBC wanita di Pacet, Sindanglaya Jawa Barat. Perawatan Maria sudah berjalan sebulan lebih lamanya. Namun keadaannya tidak juga mengalami perubahan, yang terjadi adalah kondisi Maria semakin lemah.
               Pada suatu hari, Tuti dan Yusuf berlibur di rumah Ratna dan Saleh di Sindanglaya, disitulah Tuti mulai terbuka dalam memandang kehidupan di pedesaan. Kehidupan suami istri yang melewati hari-harinya dengan bercocok tanam, ternyata juga mampu membimbing masyarakat sekitarnya menjadi sadar akan pentingnya pendidikan. Keadaan tersebut benar-benar telah menggugah alam pikiran Tuti. Ia menyadari bahwa kehidupan mulia, mengabdi kepada masyarakat tidak hanya dapat dilakukan di kota atau dalam kegiatan-kegiatan organisasi, sebagaimana yang selama ini ia lakukan. Tetapi juga di desa atau di masyarakat mana pun, pengabdian itu dapat dilakukan. Semakin hari hubungan Yusuf dan Tuti semakin akrab, sementara itu kondisi kesehatan Maria justru semakin mengkhawatirkan. Dokter yang merawatnya pun sudah tidak dapat berbuat lebih banyak lagi. Pada saat kritis Maria mengatakan sesuatu sebelum ia meninggal, yaitu ingin melihat Tuti dan Yusuf hidup bahagia bersama. Akhirnya Yusuf dan Tuti bertunangan.

D.    Unsur Instrinsik Novel                                                                                             
A. Tema                                                                                                  
                 Perjuangan Wanita dan Percintaan.                                                   
B. Tokoh
1.Maria (Anak bungsu Raden Wiriaatmaja)
·                    Wataknya : Mudah kagum
“Mudah memuji dan memuja, lincah dan periang terlihat pada kutipan, “Sebaliknya maria seseorang yang mudah kagum, yang mudah memuji dan memuja. Sebelum selesai benar ia berpikir, ucapannya telah keluar menyatakan perasaannya yang bergelora, baik girang maupun waktu kedukaan.”

2.Tuti (Anak sulung Raden Wiriaatmaja)
·                   Wataknya : Tidak mudah kagum
            “Tuti bukan seorang yang mudah kagum, yang mudah heran melihat sesuatu.”

3.Yusuf (Putra Demang Munaf di Mertapura)
               Wataknya : Patuh
               “Melihat bundanya bersungguh-sungguh dan mencoba menahannya, hati Yusuf
lemah sehingga diturutkannya kehendak bundanya menunda berangkat beberapa hari.” 

4.Raden Wiriaatmaja (Ayah dari Maria dan Tuti)
·                    Wataknya : Penyayang,
Memaksa anaknya itu menurut kehendaknya tiada sampai hatinya, sebab   sayangnya kepada Tuti dan Maria”



5.Juru rawat
Wataknya : Baik hati,                             

Kepada Maria juru rawat yang baik budi itu berkati membesarkan hati, “Sekarang tinggal kita saja lagi. Kita akan dapat main dam lagi seperti dahulu. Benar tidak, Maria?” 

C. Latar/setting

Tempat  : Rumah Wiriaatmaja

Tuti duduk di ruang dalam, menghadap meja membaca buku. Sejak dari pukul 17.00 Wib,   karena ayahnya pergi ke rumah temannya di Gang Ketapang,sedangkan maria pergi main tennis.”

Waktu    :  Pagi.
Pukul 07.00 Wib mereka bertolak dari rumah dan menuju gedumg aquarium pagi-pagi itu.”
                                    
                               Suasana  : Kesal
“Ya, suruh Tuti membuatnya, “kata Maria yang sebenarnya mengerti maksud kakanya itu,
 tetapi masih juga hendak panas hatinya akan celaan saudaranya itu”
                                                                                                                             
Alur       : Maju
Didalam novel ini terdapat alur Maju, diawali dari:  
Perkenalan
 Saat di gedung akurium Yusuf bertemu dengan Maria dan Tuti.
Konflik
Maria dan Tuti bertengkar hebat. Pertengkaran itu disebabkan  kritikan pedas Tuti
Penyelesaian
Akhirnya Tuti dan Yusuf menuruti permintaan terakhir Maria. Mereka berdua menikah.

D. Sudut Pandang                   
    Orang ketiga yang ditandai dengan menggunakan nama dalam menyebutkan tokoh-tokohnya.
Berat Tuti dan Yusuf mengangkat badannya dari meja sesudah makan malam
E. Amanat
Perempuan harus memiliki pengetahuan yang luas sehingga dapat memberikan pengaruh yang sangat besar didalam kehidupan, dengan demikian perempuan dapat lebih dihargai kedudukannya.
Pandangan seseorang mengenai kebahagiaan itu berbeda-beda. Jadi, kita harus mengikuti kata hati kita untuk mendapatkan kebahagian tersebut.
F. Gaya bahasa
Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu.
         G. Keunggulan                                  
                           Keunggulan dari novel ini adalah cerita yang disuguhkan kepada pembaca sangat menarik , kisah cinta Yusuf, Tuti dan Maria sangat menarik untuk diikuti.
H. Kelemahan
             Bahasa yang digunakan dalam novel Layar Terkembang susah dimengerti karena banyak menggunakan bahasa-bahasa lama.

E. Unsur Ekstrinsik:
1. Nilai sosial :
Novel inni menceritakan bahwa sesama manusia, apalagi sesama kaum pelajar harus saling membantu. Bantuan itu dapat berupa beasiswa bagi pelajar yang kurang mampu.
2. Nilai Agama :
Kita menjalankan perintah agama dimulai dari sekarang juga, tidak  harus menunggu hari tua.
3. Nilai Moral :
Mencintai seseorang bukan hanya tentang rupa dan kemapanannya, tapi tentang mengikhlaskannya untuk bahagia. “Sebelum Maria meninggal ia sempat memikirkan kebahagian kakak dan pacarnya sampai berpesan agar Tuti kakaknya menikah dengan Yusuf pacarnya.”
            Kesimpulan
Novel ini dapat mengajarkan kita untuk lebih mudah menghadapi segala permasalahan hidup. Novel ini baik dibaca oleh siapapun. Terkhusus oleh para orang tua, guru, anak dan sebagainya.


                                                  


























Tidak ada komentar:

Posting Komentar