Senin, 14 November 2016

cerpen

Kuncinya adalah Kejujuran

Hari ini begitu cerah sekali, setelah semalaman tanah di guyur oleh hujan. Kicauan burung menandakan bahwa hari ini cuacanya sangat indah menambah semangat Arini pergi ke sekolah. Yah, Arini adalah namanya. Ibunya adalah seorang rumah tangga. Sedangkan Ayahnya adalah pengusaha Minyak yang sukses. Apalagi Arini adalah anak tunggal. Anak yang disayangi Ibu dan Ayahnya. Apapun keinginan Arini pasti mereka wujudkan selagi itu masih bernilai positif. Ibunya selalu mengajarkan untuk selalu berbuat baik kepada semua orang. Sedangkan Ayahnya menanamkan sifat jujur di dalam hati Arini. Sehingga Arini tumbuh besar menjadi anak yang baik dan Jujur.
"Ibu, Ayah. Arini pergi ya"ucap Arini pada kedua orang tuanya.
"Iya, sayang. Hati-hati di dijalan ya"balas Ibunya.
"Semangat yang belajar ya, sayang"sambung Ayahny sambil mengelus kepala Arini.
Kemudian Arini menyalam lalu mencium tangan kedua orang tuanya.
"Assalamu alaikum"
"Walaikum salam"jawab Ibu dan Ayah.
Arini melangkah ke depan pintu rumah. Ia segera pergi ke garasi kemudian ia mengendari sepeda motor miliknya lalu pergi ke sekolah.
Sampai di area parkiran sekolah. Arini langsung memakirkan sepeda motornya lalu menuju ke kelasnya. Sampai di dalam kelas ia langsung duduk di bangkunya. Kemudian ia mengambil sebuah novel dari dalam tasnya. Arini termasuk siswa terpintar di kelasnya. Sifatnya yang ramah, jujur dan juga baik kepada semua orang membuat dia banyak disukai orang. Termasuk guru-guru yang masuk di dalam kelasnya. Guru-guru sering membicarakan tentang Arini ketika ada rapat guru. Arini juga termasuk siswa teraktif di organisasi sekolah yaitu ROHIS ( Rohani Islami). Banyak siswa-siswi memuji keelokan dan kerendahan jiwa nya. Bahkan guru Agama menunjuk Arini sebagai Ketua ROHIS.
"Rini. Kita ada pr gak?"Tanya Nicky.
Nicky adalah temannya Rini. Walaupun Nicky tidak terlalu pintar dalam pelajaran, bahkan hampir semua pelajaran kecuali olahraga. Di bidang olahraga Nicky ditunjuk sebagai seksi Olahraga.
"Ada Ky. Nih pr Matematika"jawab Arini sembari memberikan sebuah buku latihan matematika.
"Makasih ya, Rin. Kamu tau ajadeh kebutuhanku. Hehehe ..."Balas Nicky sambil tertawa karena Nicky yakin Arini adalah best friend nya. Buktinya Arini selalu memberikan contekan gratis kepada Nicky.
"Iya, Ky"jawab Arini senyum memberikan tanda kelembutan dan kebaikan hatinya tanpa memandang siapapun orangnya.
"Jam sudah menunjukkan pukul 7.10. Namun, Mila belum datang. Kemana ya dia?"batin Arini yang sepertinya sedang cemas memikirkan teman sebangkunya itu.
Teettt ... Bel berbunyi menandakan semua murid segera masuk ke dalam kelas untuk memulai pelajaran pertama. Begitu juga dengan kelas Arini. Hari ini hari kamis. Jam pelajaran pertama mereka adalah matematika. Bu Herlina adalah gurunya. Seorang guru yang baik hati. Walaupun pelajaran yang dibawanya adalah matematika yang sebagian siswa bahkan hampir semua siswa menyatakan bahwa pelajaran matematika sangatlah susah. Namun tidak bagi Arini. Matematika adalah pelajaran yang paling ia suka. Bagaimana tidak? Setiap ulangan ia selalu meraih nilai diatas 8 dan tidak pernah dibawah 8.
"Selamat pagi, semuanya"sapa Bu Herlina sembari masuk ke dalam kelas lalu duduk di bangkunya.
"Pagi, Bu"jawab semua murid.
Dengan tergopoh-gopoh Mila berlari menuju ke arah gerbang. Hari ini Mila terlambat datang ke sekolah. Sudah sering Mila datang terlambat. Mila harus menyiapkan sarapan untuk adik-adiknya. Mila anak yang baik, perawakannya juga cantik. Namun sayang, nasib tak seindah dengan wajahnya. Mila adalah anak yatim. Ayahnya meninggal di saat ia duduk di kelas 3 SMP. Kini ia tinggal bersama Ibunya yang hanya seorang pencuci kain tetangga-tetangga di lingkungan rumah mereka. Adik-adiknya yang masih kecil-kecil harus ia siapkan sarapan sebelum pergi ke sekolah. Pukul 5 subuh Ibunya sudah pergi ke rumah tetangga-tetangga untuk mencuci pakaian dan balik ke rumah  pukul 7. Disaat jam itulah Mila baru bisa pergi ke sekolah. Sedangkan sekolah mereka masuk pukul 7.15. Jarak rumah Mila dengan sekolahnya cukup jauh. Bisa-bisa mencapai 20 menit sampai ke sekolah dengan memakai sepeda ontel sepeninggal milik Ayahnya.
"Tunggu, Pak"teriak Mila
"Cepat masuk!"kata Pak Satpam.
Kemudian Mila masuk ke area parkiran. Memarkirkan sepedanya. Kemudian berlari ke kelasnya.
"Permisi, Bu"ucap Mila.
"Terlambat lagi ya, Mila"tanya Bu Herlina.
"Iya, Bu. Saya minta maaf ya, Bu"pinta Mila.
"Iya. Silahkan masuk"
Mila kemudian masuk. Kemudian ia duduk di bangkunya, membuka tasnya lalu mengambil buku matematikanya.
"Kamu kenapa, Mil? Kamu ada masalah?"Tanya Arini.
"Gak ada kok, Rin"jawab Mila menutupi masalah yang ia rasakan sekarang. Hari ini Mila sangat sedih. Karena uda 2 bulan uang sekolahnya belum ia bayar. Ia tak tau lagi kemana mencari uang Rp. 350.000 untuk 2 bulan uang sekolahnya. Ibunya tidak punya uang lagi untuk membayar sekolahnya. Karena sudah membayar utang.
Tettt ... Berbunyi menandakan pergantian les. Setelah matematika, pelajaran selanjutnya adalah olahraga. Semua murid berganti pakaian di ruang ganti yang sudah tersedia.
"Yuk kita ganti, Mil"ajak Arini.
Mila membuka tasnya. Ternyata ia lupa membawa seragam olahraganya karena sangkin buru-burunya.
"Astaghfirullah! Baju aku ketinggalan, Rin"kata Mila sambil memukul kepalanya sendiri.
"Yah, aku sendiri dong yang olahraga, Mil"balas Arini.
"Maafin aku ya, Rin. Tolong sampaikan pada Pak Bernard ya, Rin. Aku di kelas aja"Mila memohon.
"Iya"
Arini pergi ke ruang ganti. Lalu mengikuti pelajaran olahraga tanpa Mila sahabatnya.
Mila duduk di bangku nya. Memikirkan bagaimana nasibnya jika ia tidak membayar uang sekolahnya. Serasa dunia ini mati rasanya. Sepertinya kehidupan ini akan lenyap ketika ia memikirkan uang sekolahnya. Ia sudah pasrah bila Kepala Sekolah memanggilnya dan memberikan surat pemberhentian padanya.
Ia menolah ke arah tasnya Arini. Ia melihat sebuah dompet milik Arini. Kemudian ia ambil, ia mencoba membuka dompet itu. Isinya ada uang ratusan ribu milik Arini.
"Mungkin ini jalan yang diberikan Tuhan padaku"batin Mila.
Buru-buru Mila mengambil uang itu. Ia mengkiranya, ternyata uang itu berjumlah Rp. 500.000.- kemudian ia letakkan kembali dompet itu ke dalam tas Arini dengan posisi persis seperti semula.
"Ini lebih dari cukup untuk bayar uang sekolahku. Sisanya nanti aku kasihkan ke Ibu"pikir Mila lagi.
Tettt ... Bel menandakan istirahat. Dengan tergesa-gesa Mila menyimpan uang tadi di dalam sepatunya. Kemudian ia berpura-pura tertidur. Arini masuk ke kelas. Ia mendapati Mila sedang tertidur. Arini tidak tega membangunkannya. Padahal ia ingin mengajak Mila ke kantin. Kemudian Arini membuka tasnya dan mengambil dompetnya, membukanya. Arini terkejut melihat isi dompetnya yang hanya tinggal 1 Kartu Tanda Siswa miliknya dan uang seribuan.
"Kemana uangku?"Batin Arini.
"Mil .. Mil .. Kamu ada lihat uang aku, nggak?"Tanya Arini sambil menggoyang-goyangkan tubuh Mila.
Mila bangun dari tidur pura-puranya sambil mengucek-ngucek matanya.
"Uang? Aku tidak lihat Rin"jawab Mila santai seperti tidak terjadi apa-apa.
"Pasti kamu yang ambil. Karena kamu yang berada di sini"kata Arini menuduh Mila.
"Nggak ada kok, Rin. Aku gak ambil uang kamu"jawab Mila yang kayaknya mulai merasa.
"Jujur ajalah, Mil. Aku gak marah kok"
"Maaf, Rin. Aku yang ambil"kata Mila tertunduk sambil ia mengambil uang yang ia letakkan di dalam sepatunya.
"Untuk apa kamu uang sebanyak itu, Mil?"
"Uang sekolahku sudah nunggak 2 bulan, Rin. Aku bingung mencari uang. Uang Ibuku ia bayar untuk bayar hutang"jelas Mila.
"Maafkan aku ya, Rin. Ini uang kamu"sambung Mila sambil menyodorkan uang itu ke tangan Arini.
Arini terlihat iba ketika mendengar penjelasan dari Mila. Arini kasihan melihat sahabatnya itu.
"Bagaimana jika aku jadi Mila? Aku pasti akan seperti ini juga"batin Arini.
"Ambil ajalah uang ini, Mil. Bayar lah uang sekolahmu. Agar kamu bisa sekolah lagi. Aku ini sahabatmu. Aku tidak ingin kamu tidak sekolah. Aku ingin kita berdua sukses bersama"
Tanpa terasa air mata mengalir diantara kedua mata Mila. Mila bersyukur bisa membayar uang sekolahnya. Mila memeluk Arini sekuatnya.
"Terimakasih ya, Arini"kata Mila.
"Sama-sama, Mil"
Mereka berdua berpelukan sangat lama. Air mata Arini pun turun. Ia bersyukur kepada Tuhan telah diberikan orang tua yang baik, perhatian samanya, dan memberikan apa yang ia butuhkan. Salah satunya adalah bersekolah. Sebab itu, Arini tidak ingin melihat sahabatnya itu sedih karena tak bersekolah. Apalagi Mila hanyalah anak yatim yang tinggal bersama Ibu dan adik-adiknya.
Pelukan mereka terlepas. Mereka membasuh air mata masing-masing. Kemudian Arini membuka percakapan.
"Kalau kamu butuh apa-apa lagi? Kamu cerita aja sama aku ya, Mil. Nanti aku ceritakan pada Ibu dan Ayahku. Pasti mereka berdua mau menolong kamu"kata Arini sambil memegang tangan Mila.
"Sekali lagi terima kasih ya, Rin. Kamu baik sekali kepadaku"
"Sama-sama, Mil"
Selepas kejadian itu, Arini menceritakan kisah itu kepada Ibu dan Ayahnya di rumah. Ibunya Arini terharu mendengar kisah anaknya itu dan  menyuruh Arini untuk mengajak Mila ke rumah mereka. Ayahnya Arini juga ingin sekali melihat kondisi keluarga Mila.
Besok harinya di sekolah. Arini mengajak Mila main ke rumahnya.
"Ibuku ingin sekali ketemu denganmu, Mil. Ayahku juga"
"Nanti mereka marah kepadaku"
"Orang tua ku baik, kok. Kamu jangan takut ya, Mil"
Sepulang sekolah mereka ke rumahnya Arini. Ibu Arini menyambut kedatangan putrinya itu dan Mila. Ibu Arini mengajak Mila masuk ke dalam runah dan mengajak makan siang juga. Ibunya Arini pengen Mila tinggal di rumah mereka sehari ini aja. Namun, Mila menolak. Karena besok pagi ia harus memasak sarapan untuk adik-adiknya. Ibunya Arini memaklumi hal tersebut dan membiarkan Mila pulang. Sebelum Mila pulang, Ibunya Arini mengajak Mila dan Ibunya untuk tinggal di rumah mereka.
Mila pulang ke rumahnya. Kemudian Mila menceritakan hal tersebut. Ibunya Mila setuju. Dan mulai hari itu mereka tinggal di rumah Arini tinggal bersama Arini dan kedua orang tuanya.
#Tamat!!


SARI SYAHURI

SMA NEGERI 2 RANTAU SELATAN, LABUHAN BATU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar