Kuncinya adalah Kejujuran
Hari ini begitu cerah sekali, setelah
semalaman tanah di guyur oleh hujan. Kicauan burung menandakan bahwa hari ini
cuacanya sangat indah menambah semangat Arini pergi ke sekolah. Yah, Arini
adalah namanya. Ibunya adalah seorang rumah tangga. Sedangkan Ayahnya adalah
pengusaha Minyak yang sukses. Apalagi Arini adalah anak tunggal. Anak yang
disayangi Ibu dan Ayahnya. Apapun keinginan Arini pasti mereka wujudkan selagi
itu masih bernilai positif. Ibunya selalu mengajarkan untuk selalu berbuat baik
kepada semua orang. Sedangkan Ayahnya menanamkan sifat jujur di dalam hati
Arini. Sehingga Arini tumbuh besar menjadi anak yang baik dan Jujur.
"Ibu, Ayah. Arini pergi
ya"ucap Arini pada kedua orang tuanya.
"Iya, sayang. Hati-hati di dijalan
ya"balas Ibunya.
"Semangat yang belajar ya,
sayang"sambung Ayahny sambil mengelus kepala Arini.
Kemudian Arini menyalam lalu mencium
tangan kedua orang tuanya.
"Assalamu alaikum"
"Walaikum salam"jawab Ibu
dan Ayah.
Arini melangkah ke depan pintu rumah.
Ia segera pergi ke garasi kemudian ia mengendari sepeda motor miliknya lalu
pergi ke sekolah.
Sampai di area parkiran sekolah.
Arini langsung memakirkan sepeda motornya lalu menuju ke kelasnya. Sampai di
dalam kelas ia langsung duduk di bangkunya. Kemudian ia mengambil sebuah novel
dari dalam tasnya. Arini termasuk siswa terpintar di kelasnya. Sifatnya yang
ramah, jujur dan juga baik kepada semua orang membuat dia banyak disukai orang.
Termasuk guru-guru yang masuk di dalam kelasnya. Guru-guru sering membicarakan
tentang Arini ketika ada rapat guru. Arini juga termasuk siswa teraktif di
organisasi sekolah yaitu ROHIS ( Rohani Islami). Banyak siswa-siswi memuji
keelokan dan kerendahan jiwa nya. Bahkan guru Agama menunjuk Arini sebagai
Ketua ROHIS.
"Rini. Kita ada pr
gak?"Tanya Nicky.
Nicky adalah temannya Rini. Walaupun
Nicky tidak terlalu pintar dalam pelajaran, bahkan hampir semua pelajaran
kecuali olahraga. Di bidang olahraga Nicky ditunjuk sebagai seksi Olahraga.
"Ada Ky. Nih pr
Matematika"jawab Arini sembari memberikan sebuah buku latihan matematika.
"Makasih ya, Rin. Kamu tau
ajadeh kebutuhanku. Hehehe ..."Balas Nicky sambil tertawa karena Nicky
yakin Arini adalah best friend nya. Buktinya Arini selalu memberikan contekan
gratis kepada Nicky.
"Iya, Ky"jawab Arini senyum
memberikan tanda kelembutan dan kebaikan hatinya tanpa memandang siapapun
orangnya.
"Jam sudah menunjukkan pukul
7.10. Namun, Mila belum datang. Kemana ya dia?"batin Arini yang sepertinya
sedang cemas memikirkan teman sebangkunya itu.
Teettt ... Bel berbunyi menandakan
semua murid segera masuk ke dalam kelas untuk memulai pelajaran pertama. Begitu
juga dengan kelas Arini. Hari ini hari kamis. Jam pelajaran pertama mereka
adalah matematika. Bu Herlina adalah gurunya. Seorang guru yang baik hati.
Walaupun pelajaran yang dibawanya adalah matematika yang sebagian siswa bahkan
hampir semua siswa menyatakan bahwa pelajaran matematika sangatlah susah. Namun
tidak bagi Arini. Matematika adalah pelajaran yang paling ia suka. Bagaimana
tidak? Setiap ulangan ia selalu meraih nilai diatas 8 dan tidak pernah dibawah
8.
"Selamat pagi,
semuanya"sapa Bu Herlina sembari masuk ke dalam kelas lalu duduk di
bangkunya.
"Pagi, Bu"jawab semua
murid.
Dengan tergopoh-gopoh Mila berlari
menuju ke arah gerbang. Hari ini Mila terlambat datang ke sekolah. Sudah sering
Mila datang terlambat. Mila harus menyiapkan sarapan untuk adik-adiknya. Mila
anak yang baik, perawakannya juga cantik. Namun sayang, nasib tak seindah
dengan wajahnya. Mila adalah anak yatim. Ayahnya meninggal di saat ia duduk di
kelas 3 SMP. Kini ia tinggal bersama Ibunya yang hanya seorang pencuci kain
tetangga-tetangga di lingkungan rumah mereka. Adik-adiknya yang masih
kecil-kecil harus ia siapkan sarapan sebelum pergi ke sekolah. Pukul 5 subuh
Ibunya sudah pergi ke rumah tetangga-tetangga untuk mencuci pakaian dan balik
ke rumah pukul 7. Disaat jam itulah Mila
baru bisa pergi ke sekolah. Sedangkan sekolah mereka masuk pukul 7.15. Jarak
rumah Mila dengan sekolahnya cukup jauh. Bisa-bisa mencapai 20 menit sampai ke
sekolah dengan memakai sepeda ontel sepeninggal milik Ayahnya.
"Tunggu, Pak"teriak Mila
"Cepat masuk!"kata Pak
Satpam.
Kemudian Mila masuk ke area parkiran.
Memarkirkan sepedanya. Kemudian berlari ke kelasnya.
"Permisi, Bu"ucap Mila.
"Terlambat lagi ya,
Mila"tanya Bu Herlina.
"Iya, Bu. Saya minta maaf ya,
Bu"pinta Mila.
"Iya. Silahkan masuk"
Mila kemudian masuk. Kemudian ia
duduk di bangkunya, membuka tasnya lalu mengambil buku matematikanya.
"Kamu kenapa, Mil? Kamu ada
masalah?"Tanya Arini.
"Gak ada kok, Rin"jawab
Mila menutupi masalah yang ia rasakan sekarang. Hari ini Mila sangat sedih.
Karena uda 2 bulan uang sekolahnya belum ia bayar. Ia tak tau lagi kemana
mencari uang Rp. 350.000 untuk 2 bulan uang sekolahnya. Ibunya tidak punya uang
lagi untuk membayar sekolahnya. Karena sudah membayar utang.
Tettt ... Berbunyi menandakan
pergantian les. Setelah matematika, pelajaran selanjutnya adalah olahraga.
Semua murid berganti pakaian di ruang ganti yang sudah tersedia.
"Yuk kita ganti, Mil"ajak
Arini.
Mila membuka tasnya. Ternyata ia lupa
membawa seragam olahraganya karena sangkin buru-burunya.
"Astaghfirullah! Baju aku
ketinggalan, Rin"kata Mila sambil memukul kepalanya sendiri.
"Yah, aku sendiri dong yang
olahraga, Mil"balas Arini.
"Maafin aku ya, Rin. Tolong
sampaikan pada Pak Bernard ya, Rin. Aku di kelas aja"Mila memohon.
"Iya"
Arini pergi ke ruang ganti. Lalu
mengikuti pelajaran olahraga tanpa Mila sahabatnya.
Mila duduk di bangku nya. Memikirkan
bagaimana nasibnya jika ia tidak membayar uang sekolahnya. Serasa dunia ini
mati rasanya. Sepertinya kehidupan ini akan lenyap ketika ia memikirkan uang
sekolahnya. Ia sudah pasrah bila Kepala Sekolah memanggilnya dan memberikan
surat pemberhentian padanya.
Ia menolah ke arah tasnya Arini. Ia
melihat sebuah dompet milik Arini. Kemudian ia ambil, ia mencoba membuka dompet
itu. Isinya ada uang ratusan ribu milik Arini.
"Mungkin ini jalan yang
diberikan Tuhan padaku"batin Mila.
Buru-buru Mila mengambil uang itu. Ia
mengkiranya, ternyata uang itu berjumlah Rp. 500.000.- kemudian ia letakkan
kembali dompet itu ke dalam tas Arini dengan posisi persis seperti semula.
"Ini lebih dari cukup untuk
bayar uang sekolahku. Sisanya nanti aku kasihkan ke Ibu"pikir Mila lagi.
Tettt ... Bel menandakan istirahat.
Dengan tergesa-gesa Mila menyimpan uang tadi di dalam sepatunya. Kemudian ia
berpura-pura tertidur. Arini masuk ke kelas. Ia mendapati Mila sedang tertidur.
Arini tidak tega membangunkannya. Padahal ia ingin mengajak Mila ke kantin.
Kemudian Arini membuka tasnya dan mengambil dompetnya, membukanya. Arini
terkejut melihat isi dompetnya yang hanya tinggal 1 Kartu Tanda Siswa miliknya
dan uang seribuan.
"Kemana uangku?"Batin
Arini.
"Mil .. Mil .. Kamu ada lihat
uang aku, nggak?"Tanya Arini sambil menggoyang-goyangkan tubuh Mila.
Mila bangun dari tidur pura-puranya
sambil mengucek-ngucek matanya.
"Uang? Aku tidak lihat
Rin"jawab Mila santai seperti tidak terjadi apa-apa.
"Pasti kamu yang ambil. Karena
kamu yang berada di sini"kata Arini menuduh Mila.
"Nggak ada kok, Rin. Aku gak
ambil uang kamu"jawab Mila yang kayaknya mulai merasa.
"Jujur ajalah, Mil. Aku gak
marah kok"
"Maaf, Rin. Aku yang
ambil"kata Mila tertunduk sambil ia mengambil uang yang ia letakkan di
dalam sepatunya.
"Untuk apa kamu uang sebanyak
itu, Mil?"
"Uang sekolahku sudah nunggak 2
bulan, Rin. Aku bingung mencari uang. Uang Ibuku ia bayar untuk bayar
hutang"jelas Mila.
"Maafkan aku ya, Rin. Ini uang
kamu"sambung Mila sambil menyodorkan uang itu ke tangan Arini.
Arini terlihat iba ketika mendengar
penjelasan dari Mila. Arini kasihan melihat sahabatnya itu.
"Bagaimana jika aku jadi Mila?
Aku pasti akan seperti ini juga"batin Arini.
"Ambil ajalah uang ini, Mil.
Bayar lah uang sekolahmu. Agar kamu bisa sekolah lagi. Aku ini sahabatmu. Aku
tidak ingin kamu tidak sekolah. Aku ingin kita berdua sukses bersama"
Tanpa terasa air mata mengalir
diantara kedua mata Mila. Mila bersyukur bisa membayar uang sekolahnya. Mila
memeluk Arini sekuatnya.
"Terimakasih ya, Arini"kata
Mila.
"Sama-sama, Mil"
Mereka berdua berpelukan sangat lama.
Air mata Arini pun turun. Ia bersyukur kepada Tuhan telah diberikan orang tua
yang baik, perhatian samanya, dan memberikan apa yang ia butuhkan. Salah
satunya adalah bersekolah. Sebab itu, Arini tidak ingin melihat sahabatnya itu
sedih karena tak bersekolah. Apalagi Mila hanyalah anak yatim yang tinggal
bersama Ibu dan adik-adiknya.
Pelukan mereka terlepas. Mereka
membasuh air mata masing-masing. Kemudian Arini membuka percakapan.
"Kalau kamu butuh apa-apa lagi?
Kamu cerita aja sama aku ya, Mil. Nanti aku ceritakan pada Ibu dan Ayahku.
Pasti mereka berdua mau menolong kamu"kata Arini sambil memegang tangan
Mila.
"Sekali lagi terima kasih ya,
Rin. Kamu baik sekali kepadaku"
"Sama-sama, Mil"
Selepas kejadian itu, Arini
menceritakan kisah itu kepada Ibu dan Ayahnya di rumah. Ibunya Arini terharu
mendengar kisah anaknya itu dan menyuruh
Arini untuk mengajak Mila ke rumah mereka. Ayahnya Arini juga ingin sekali
melihat kondisi keluarga Mila.
Besok harinya di sekolah. Arini
mengajak Mila main ke rumahnya.
"Ibuku ingin sekali ketemu
denganmu, Mil. Ayahku juga"
"Nanti mereka marah
kepadaku"
"Orang tua ku baik, kok. Kamu
jangan takut ya, Mil"
Sepulang sekolah mereka ke rumahnya
Arini. Ibu Arini menyambut kedatangan putrinya itu dan Mila. Ibu Arini mengajak
Mila masuk ke dalam runah dan mengajak makan siang juga. Ibunya Arini pengen
Mila tinggal di rumah mereka sehari ini aja. Namun, Mila menolak. Karena besok
pagi ia harus memasak sarapan untuk adik-adiknya. Ibunya Arini memaklumi hal
tersebut dan membiarkan Mila pulang. Sebelum Mila pulang, Ibunya Arini mengajak
Mila dan Ibunya untuk tinggal di rumah mereka.
Mila pulang ke rumahnya. Kemudian
Mila menceritakan hal tersebut. Ibunya Mila setuju. Dan mulai hari itu mereka
tinggal di rumah Arini tinggal bersama Arini dan kedua orang tuanya.
#Tamat!!
SARI SYAHURI
SMA NEGERI 2 RANTAU SELATAN,
LABUHAN BATU
Tidak ada komentar:
Posting Komentar