Senin, 14 November 2016

Resensi Novel Layar Terkambang(sari,dewi dan jayatri)

Resensi Novel Layar Terkembang
A.    Identitas Novel
Judul               : Layar Terkembang
Penulis            : Sutan Takdir Alisjahbana
Penerbit           : PT BALAI PUSTAKA
Kota terbit       : Jalan Gunung Sahari Raya No.4, Jakarta 10710
Tahun terbit     : 2006
B.     Kepengarangan        
Sutan Takdir Alisjahbana dilahirkan dirawan Natal, 11 Februari 1908. Tahun  1915-1921 belliau menempuh pendidikan HIS, tahun 1921-1925 menempuh pendidikan Kweekschool di Bukittinggi, yang kemudian dilanjutkan ke Hogere Kweekschool di Bandung, tahun 1937-1942 beliau menjalani pendidikan di Jakarta, tahun 1940-1942 beliau menerima pendidikan di Fakultas Sastra, tahun 1979 beliau memperoleh gelar Doctor Honoris Causa untuk Ilmu Bahasa dari Universitas Indonesia, dan pada tahun 1987 beliau memperoleh gelar Doctor Honoris Causa untuk Ilmu Sastra dari Universitas Sains Malaysia. Karya-karya Sutan Takdir Alisjahbana yaitu: Tak Putus Dirundung Malang, Dian yang Tak Kunjung Padam, Anak Perawan, di Sarang  Penyamin, Grotta Azzura, Tebaran Mega, Lagu Pemacu Ombak, Perempuan di Persimpangan Zaman, dan Kebangkitan.
C.    Sinopsis
Mengisahkan kehidupan dua bersaudara yang bernama Maria dan Tuti anak dari Raden Wiriatmadja. Tuti adalah anak sulung sedangkan Maria adalah anak bungsu. Sejak lama Ibu mereka telah meninggal dunia. Meskipun mereka adik kakak, mereka memiliki watak yang sangat berbeda satu dengan yang lain. Tuti si sulung adalah seorang gadis yang tegap, kukuh pendiriannya, jarang sekali memuji, dan aktif dalam berbagai organisasi-organisasi wanita. Sementara Maria adalah gadis polos yang periang, lincah, dan mudah kagum dengan seseorang, serta suka berbicara tanpa berpikir panjang.
 Pada hari Minggu Tuti dan Maria pergi ke akuarium yang ada di pasar ikan. Di tempat itu mereka bertemu dengan seorang pemuda yang tinggi badannya dan berkulit kuning langsat, berpakaian putih berdasi kupu-kupu, dan memakai peci berwarna hitam. Mereka bertemu ketika hendak meninggalkan pasar. Pada saat itu  mereka berbincang-bincang dan berkenalan. Hingga mereka pun saling akrab Nama pemuda itu adalah Yusuf, dia adalah seorang mahasiswa sekolah tinggi kedokteran. Sementara Maria adalah murid H.B.S Corpentier Alting Stichting dan Tuti adalah seorang guru di sekolah H.I.S Arjuna di Petojo. Mereka berbincang samapai-sampai mereka tidak sadar telah berada di depan rumah Tuti dan Maria.
           Yusuf adalah putra dari Demang Munaf di Matapura, Sumatra Selatan. Semenjak pertemuan itu Yusuf selalu terbayang-bayang kedua gadis yang ia temui di akuarium., terutama Maria. Yusuf telah jatuh cinta kepada Maria sejak pertama kali bertemu, bahkan dia berharap untuk bisa bertemu lagi dengannya. Tidak disangka oleh Yusuf, keesokan harinya dia bertemu lagi di depan hotel Des Indes. Semenjak pertemuan  keduanya itu, Yusuf mulai sering menjemput Maria untuk berangkat sekolah serta dia juga sudah mulai berani berkunjung ke rumah Maria. Sementara itu Tuti dan ayahnya melihat hubungan kedua remaja itu tampak bukan lagi hubungan persahabatan biasa. Tuti sendiri terus disibukan oleh kegiatan-kegiatannya dalam kongres Putri Sedar yang diadakan di Jakarta, dia sempat berpidato yang isinya membicarakan tentang emansipasi wanita. Tuti dikenal sebagai seorang wanita yang sangat mampu dalam memotivasi setiap orang. Dia sangat bijak dalam menyampaikan setiap nasihat-nasihatnya, sehingga membuat pendengarnya termotivasi dalam hal itu.. Sesudah ujian doctoral pertama dan kedua berturut-turut hingga selesai, Yusuf pulang ke rumah orang tuanya di Martapura, Sumatra Selatan. Selama  berlibur Yusuf dan Maria saling  mengirim surat, dalam surat tersebut Maria mengatakan kalau dia dan Tuti telah pindah ke Bandung. Kegiatan surat menyurat tersebut membuat Yusuf semakin merindukan Maria. Sehingga pada akhirnya Yusuf memutuskan untuk segera kembali ke Jakarta dan ke Bandung untuk mengunjungi Maria. Kedatangan Yusuf disambut hangat oleh Maria dan Tuti. Setelah itu Yusuf mengajak Maria berjalan-jalan ke air terjun Dago, tetapi Tuti tidak dapat meninggalkan kesibukannya dia tetap sejak dengan kegiatannya sendiri. Ketika Yusuf dan Maria datang kesuatu tempat, di tempat itu Yusuf menyatakan perasaan cintanya kepada Maria. Setelah kejadian itu, kelakuan Maria berubah. Percakapannya selalu tentang Yusuf saja, Ingatannya sering tidak menentu, dan sering melamun, Sehingga Rukamah sering mengganggunya. Sementara hari-hari Maria penuh kehangatan bersama Yusuf, Tuti sendiri lebih banyak membaca buku. Sebenarnya pikiran Tuti terganggu oleh keinginannya untuk merasakan kemesraan cinta. Melihat kemesraan Maria dan Yusuf, Tuti pun ingin mengalaminya. Tetapi Tuti juga memiliki kekhawatiran terhadap  hubungan Maria dan Yusuf. Kemudian Tuti menasehati Maria agar jangan sampai dihanyutkan oleh cinta agar tidak ada penyesalan kelak. Nasihat yang diberikan Maria justru memicu pertengkaran diantara mereka dan memberikan pukulan keras terhadap Tuti. Dari kejadian itu, Tuti sama sekali tidak berbicara dengan Maria, mereka tidak akrab seperti dulu lagi. Semua tampak berbeda Tuti merasa sendiri dan sepi dalam kehidupannya. Ketika Maria mendadak terkena penyakit malaria dan TBC, Tuti pun kembali memperhatikan Maria, Tuti menjaganya dengan sabar. Pada saat itu juga adik Supomo datang atas perintah Supomo untuk meminta jawaban pernyataan cintanya kepada Tuti. Sebenarnya Tuti sudah ingin memiliki seorang kekasih, tetapi Supomo dipandangnya bukan pria idaman yang diinginkan Tuti. Maka dengan segera Tuti menulis surat penolakan. Sementara itu, keadaan Maria semakin hari makin bertambah parah. Kemudian ayahnya, Tuti, dan Yusuf memutuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Dokter yang merawatnya menyarankan agar Maria dibawa ke rumah sakit khusus penderita penyakit TBC wanita di Pacet, Sindanglaya Jawa Barat. Perawatan Maria sudah berjalan sebulan lebih lamanya. Namun keadaannya tidak juga mengalami perubahan, yang terjadi adalah kondisi Maria semakin lemah.
               Pada suatu hari, Tuti dan Yusuf berlibur di rumah Ratna dan Saleh di Sindanglaya, disitulah Tuti mulai terbuka dalam memandang kehidupan di pedesaan. Kehidupan suami istri yang melewati hari-harinya dengan bercocok tanam, ternyata juga mampu membimbing masyarakat sekitarnya menjadi sadar akan pentingnya pendidikan. Keadaan tersebut benar-benar telah menggugah alam pikiran Tuti. Ia menyadari bahwa kehidupan mulia, mengabdi kepada masyarakat tidak hanya dapat dilakukan di kota atau dalam kegiatan-kegiatan organisasi, sebagaimana yang selama ini ia lakukan. Tetapi juga di desa atau di masyarakat mana pun, pengabdian itu dapat dilakukan. Semakin hari hubungan Yusuf dan Tuti semakin akrab, sementara itu kondisi kesehatan Maria justru semakin mengkhawatirkan. Dokter yang merawatnya pun sudah tidak dapat berbuat lebih banyak lagi. Pada saat kritis Maria mengatakan sesuatu sebelum ia meninggal, yaitu ingin melihat Tuti dan Yusuf hidup bahagia bersama. Akhirnya Yusuf dan Tuti bertunangan.

D.    Unsur Instrinsik Novel                                                                                             
A. Tema                                                                                                  
                 Perjuangan Wanita dan Percintaan.                                                   
B. Tokoh
1.Maria (Anak bungsu Raden Wiriaatmaja)
·                    Wataknya : Mudah kagum
“Mudah memuji dan memuja, lincah dan periang terlihat pada kutipan, “Sebaliknya maria seseorang yang mudah kagum, yang mudah memuji dan memuja. Sebelum selesai benar ia berpikir, ucapannya telah keluar menyatakan perasaannya yang bergelora, baik girang maupun waktu kedukaan.”

2.Tuti (Anak sulung Raden Wiriaatmaja)
·                   Wataknya : Tidak mudah kagum
            “Tuti bukan seorang yang mudah kagum, yang mudah heran melihat sesuatu.”

3.Yusuf (Putra Demang Munaf di Mertapura)
               Wataknya : Patuh
               “Melihat bundanya bersungguh-sungguh dan mencoba menahannya, hati Yusuf
lemah sehingga diturutkannya kehendak bundanya menunda berangkat beberapa hari.” 

4.Raden Wiriaatmaja (Ayah dari Maria dan Tuti)
·                    Wataknya : Penyayang,
Memaksa anaknya itu menurut kehendaknya tiada sampai hatinya, sebab   sayangnya kepada Tuti dan Maria”



5.Juru rawat
Wataknya : Baik hati,                             

Kepada Maria juru rawat yang baik budi itu berkati membesarkan hati, “Sekarang tinggal kita saja lagi. Kita akan dapat main dam lagi seperti dahulu. Benar tidak, Maria?” 

C. Latar/setting

Tempat  : Rumah Wiriaatmaja

Tuti duduk di ruang dalam, menghadap meja membaca buku. Sejak dari pukul 17.00 Wib,   karena ayahnya pergi ke rumah temannya di Gang Ketapang,sedangkan maria pergi main tennis.”

Waktu    :  Pagi.
Pukul 07.00 Wib mereka bertolak dari rumah dan menuju gedumg aquarium pagi-pagi itu.”
                                    
                               Suasana  : Kesal
“Ya, suruh Tuti membuatnya, “kata Maria yang sebenarnya mengerti maksud kakanya itu,
 tetapi masih juga hendak panas hatinya akan celaan saudaranya itu”
                                                                                                                             
Alur       : Maju
Didalam novel ini terdapat alur Maju, diawali dari:  
Perkenalan
 Saat di gedung akurium Yusuf bertemu dengan Maria dan Tuti.
Konflik
Maria dan Tuti bertengkar hebat. Pertengkaran itu disebabkan  kritikan pedas Tuti
Penyelesaian
Akhirnya Tuti dan Yusuf menuruti permintaan terakhir Maria. Mereka berdua menikah.

D. Sudut Pandang                   
    Orang ketiga yang ditandai dengan menggunakan nama dalam menyebutkan tokoh-tokohnya.
Berat Tuti dan Yusuf mengangkat badannya dari meja sesudah makan malam
E. Amanat
Perempuan harus memiliki pengetahuan yang luas sehingga dapat memberikan pengaruh yang sangat besar didalam kehidupan, dengan demikian perempuan dapat lebih dihargai kedudukannya.
Pandangan seseorang mengenai kebahagiaan itu berbeda-beda. Jadi, kita harus mengikuti kata hati kita untuk mendapatkan kebahagian tersebut.
F. Gaya bahasa
Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu.
         G. Keunggulan                                  
                           Keunggulan dari novel ini adalah cerita yang disuguhkan kepada pembaca sangat menarik , kisah cinta Yusuf, Tuti dan Maria sangat menarik untuk diikuti.
H. Kelemahan
             Bahasa yang digunakan dalam novel Layar Terkembang susah dimengerti karena banyak menggunakan bahasa-bahasa lama.

E. Unsur Ekstrinsik:
1. Nilai sosial :
Novel inni menceritakan bahwa sesama manusia, apalagi sesama kaum pelajar harus saling membantu. Bantuan itu dapat berupa beasiswa bagi pelajar yang kurang mampu.
2. Nilai Agama :
Kita menjalankan perintah agama dimulai dari sekarang juga, tidak  harus menunggu hari tua.
3. Nilai Moral :
Mencintai seseorang bukan hanya tentang rupa dan kemapanannya, tapi tentang mengikhlaskannya untuk bahagia. “Sebelum Maria meninggal ia sempat memikirkan kebahagian kakak dan pacarnya sampai berpesan agar Tuti kakaknya menikah dengan Yusuf pacarnya.”
            Kesimpulan
Novel ini dapat mengajarkan kita untuk lebih mudah menghadapi segala permasalahan hidup. Novel ini baik dibaca oleh siapapun. Terkhusus oleh para orang tua, guru, anak dan sebagainya.


                                                  


























cerpen

Kuncinya adalah Kejujuran

Hari ini begitu cerah sekali, setelah semalaman tanah di guyur oleh hujan. Kicauan burung menandakan bahwa hari ini cuacanya sangat indah menambah semangat Arini pergi ke sekolah. Yah, Arini adalah namanya. Ibunya adalah seorang rumah tangga. Sedangkan Ayahnya adalah pengusaha Minyak yang sukses. Apalagi Arini adalah anak tunggal. Anak yang disayangi Ibu dan Ayahnya. Apapun keinginan Arini pasti mereka wujudkan selagi itu masih bernilai positif. Ibunya selalu mengajarkan untuk selalu berbuat baik kepada semua orang. Sedangkan Ayahnya menanamkan sifat jujur di dalam hati Arini. Sehingga Arini tumbuh besar menjadi anak yang baik dan Jujur.
"Ibu, Ayah. Arini pergi ya"ucap Arini pada kedua orang tuanya.
"Iya, sayang. Hati-hati di dijalan ya"balas Ibunya.
"Semangat yang belajar ya, sayang"sambung Ayahny sambil mengelus kepala Arini.
Kemudian Arini menyalam lalu mencium tangan kedua orang tuanya.
"Assalamu alaikum"
"Walaikum salam"jawab Ibu dan Ayah.
Arini melangkah ke depan pintu rumah. Ia segera pergi ke garasi kemudian ia mengendari sepeda motor miliknya lalu pergi ke sekolah.
Sampai di area parkiran sekolah. Arini langsung memakirkan sepeda motornya lalu menuju ke kelasnya. Sampai di dalam kelas ia langsung duduk di bangkunya. Kemudian ia mengambil sebuah novel dari dalam tasnya. Arini termasuk siswa terpintar di kelasnya. Sifatnya yang ramah, jujur dan juga baik kepada semua orang membuat dia banyak disukai orang. Termasuk guru-guru yang masuk di dalam kelasnya. Guru-guru sering membicarakan tentang Arini ketika ada rapat guru. Arini juga termasuk siswa teraktif di organisasi sekolah yaitu ROHIS ( Rohani Islami). Banyak siswa-siswi memuji keelokan dan kerendahan jiwa nya. Bahkan guru Agama menunjuk Arini sebagai Ketua ROHIS.
"Rini. Kita ada pr gak?"Tanya Nicky.
Nicky adalah temannya Rini. Walaupun Nicky tidak terlalu pintar dalam pelajaran, bahkan hampir semua pelajaran kecuali olahraga. Di bidang olahraga Nicky ditunjuk sebagai seksi Olahraga.
"Ada Ky. Nih pr Matematika"jawab Arini sembari memberikan sebuah buku latihan matematika.
"Makasih ya, Rin. Kamu tau ajadeh kebutuhanku. Hehehe ..."Balas Nicky sambil tertawa karena Nicky yakin Arini adalah best friend nya. Buktinya Arini selalu memberikan contekan gratis kepada Nicky.
"Iya, Ky"jawab Arini senyum memberikan tanda kelembutan dan kebaikan hatinya tanpa memandang siapapun orangnya.
"Jam sudah menunjukkan pukul 7.10. Namun, Mila belum datang. Kemana ya dia?"batin Arini yang sepertinya sedang cemas memikirkan teman sebangkunya itu.
Teettt ... Bel berbunyi menandakan semua murid segera masuk ke dalam kelas untuk memulai pelajaran pertama. Begitu juga dengan kelas Arini. Hari ini hari kamis. Jam pelajaran pertama mereka adalah matematika. Bu Herlina adalah gurunya. Seorang guru yang baik hati. Walaupun pelajaran yang dibawanya adalah matematika yang sebagian siswa bahkan hampir semua siswa menyatakan bahwa pelajaran matematika sangatlah susah. Namun tidak bagi Arini. Matematika adalah pelajaran yang paling ia suka. Bagaimana tidak? Setiap ulangan ia selalu meraih nilai diatas 8 dan tidak pernah dibawah 8.
"Selamat pagi, semuanya"sapa Bu Herlina sembari masuk ke dalam kelas lalu duduk di bangkunya.
"Pagi, Bu"jawab semua murid.
Dengan tergopoh-gopoh Mila berlari menuju ke arah gerbang. Hari ini Mila terlambat datang ke sekolah. Sudah sering Mila datang terlambat. Mila harus menyiapkan sarapan untuk adik-adiknya. Mila anak yang baik, perawakannya juga cantik. Namun sayang, nasib tak seindah dengan wajahnya. Mila adalah anak yatim. Ayahnya meninggal di saat ia duduk di kelas 3 SMP. Kini ia tinggal bersama Ibunya yang hanya seorang pencuci kain tetangga-tetangga di lingkungan rumah mereka. Adik-adiknya yang masih kecil-kecil harus ia siapkan sarapan sebelum pergi ke sekolah. Pukul 5 subuh Ibunya sudah pergi ke rumah tetangga-tetangga untuk mencuci pakaian dan balik ke rumah  pukul 7. Disaat jam itulah Mila baru bisa pergi ke sekolah. Sedangkan sekolah mereka masuk pukul 7.15. Jarak rumah Mila dengan sekolahnya cukup jauh. Bisa-bisa mencapai 20 menit sampai ke sekolah dengan memakai sepeda ontel sepeninggal milik Ayahnya.
"Tunggu, Pak"teriak Mila
"Cepat masuk!"kata Pak Satpam.
Kemudian Mila masuk ke area parkiran. Memarkirkan sepedanya. Kemudian berlari ke kelasnya.
"Permisi, Bu"ucap Mila.
"Terlambat lagi ya, Mila"tanya Bu Herlina.
"Iya, Bu. Saya minta maaf ya, Bu"pinta Mila.
"Iya. Silahkan masuk"
Mila kemudian masuk. Kemudian ia duduk di bangkunya, membuka tasnya lalu mengambil buku matematikanya.
"Kamu kenapa, Mil? Kamu ada masalah?"Tanya Arini.
"Gak ada kok, Rin"jawab Mila menutupi masalah yang ia rasakan sekarang. Hari ini Mila sangat sedih. Karena uda 2 bulan uang sekolahnya belum ia bayar. Ia tak tau lagi kemana mencari uang Rp. 350.000 untuk 2 bulan uang sekolahnya. Ibunya tidak punya uang lagi untuk membayar sekolahnya. Karena sudah membayar utang.
Tettt ... Berbunyi menandakan pergantian les. Setelah matematika, pelajaran selanjutnya adalah olahraga. Semua murid berganti pakaian di ruang ganti yang sudah tersedia.
"Yuk kita ganti, Mil"ajak Arini.
Mila membuka tasnya. Ternyata ia lupa membawa seragam olahraganya karena sangkin buru-burunya.
"Astaghfirullah! Baju aku ketinggalan, Rin"kata Mila sambil memukul kepalanya sendiri.
"Yah, aku sendiri dong yang olahraga, Mil"balas Arini.
"Maafin aku ya, Rin. Tolong sampaikan pada Pak Bernard ya, Rin. Aku di kelas aja"Mila memohon.
"Iya"
Arini pergi ke ruang ganti. Lalu mengikuti pelajaran olahraga tanpa Mila sahabatnya.
Mila duduk di bangku nya. Memikirkan bagaimana nasibnya jika ia tidak membayar uang sekolahnya. Serasa dunia ini mati rasanya. Sepertinya kehidupan ini akan lenyap ketika ia memikirkan uang sekolahnya. Ia sudah pasrah bila Kepala Sekolah memanggilnya dan memberikan surat pemberhentian padanya.
Ia menolah ke arah tasnya Arini. Ia melihat sebuah dompet milik Arini. Kemudian ia ambil, ia mencoba membuka dompet itu. Isinya ada uang ratusan ribu milik Arini.
"Mungkin ini jalan yang diberikan Tuhan padaku"batin Mila.
Buru-buru Mila mengambil uang itu. Ia mengkiranya, ternyata uang itu berjumlah Rp. 500.000.- kemudian ia letakkan kembali dompet itu ke dalam tas Arini dengan posisi persis seperti semula.
"Ini lebih dari cukup untuk bayar uang sekolahku. Sisanya nanti aku kasihkan ke Ibu"pikir Mila lagi.
Tettt ... Bel menandakan istirahat. Dengan tergesa-gesa Mila menyimpan uang tadi di dalam sepatunya. Kemudian ia berpura-pura tertidur. Arini masuk ke kelas. Ia mendapati Mila sedang tertidur. Arini tidak tega membangunkannya. Padahal ia ingin mengajak Mila ke kantin. Kemudian Arini membuka tasnya dan mengambil dompetnya, membukanya. Arini terkejut melihat isi dompetnya yang hanya tinggal 1 Kartu Tanda Siswa miliknya dan uang seribuan.
"Kemana uangku?"Batin Arini.
"Mil .. Mil .. Kamu ada lihat uang aku, nggak?"Tanya Arini sambil menggoyang-goyangkan tubuh Mila.
Mila bangun dari tidur pura-puranya sambil mengucek-ngucek matanya.
"Uang? Aku tidak lihat Rin"jawab Mila santai seperti tidak terjadi apa-apa.
"Pasti kamu yang ambil. Karena kamu yang berada di sini"kata Arini menuduh Mila.
"Nggak ada kok, Rin. Aku gak ambil uang kamu"jawab Mila yang kayaknya mulai merasa.
"Jujur ajalah, Mil. Aku gak marah kok"
"Maaf, Rin. Aku yang ambil"kata Mila tertunduk sambil ia mengambil uang yang ia letakkan di dalam sepatunya.
"Untuk apa kamu uang sebanyak itu, Mil?"
"Uang sekolahku sudah nunggak 2 bulan, Rin. Aku bingung mencari uang. Uang Ibuku ia bayar untuk bayar hutang"jelas Mila.
"Maafkan aku ya, Rin. Ini uang kamu"sambung Mila sambil menyodorkan uang itu ke tangan Arini.
Arini terlihat iba ketika mendengar penjelasan dari Mila. Arini kasihan melihat sahabatnya itu.
"Bagaimana jika aku jadi Mila? Aku pasti akan seperti ini juga"batin Arini.
"Ambil ajalah uang ini, Mil. Bayar lah uang sekolahmu. Agar kamu bisa sekolah lagi. Aku ini sahabatmu. Aku tidak ingin kamu tidak sekolah. Aku ingin kita berdua sukses bersama"
Tanpa terasa air mata mengalir diantara kedua mata Mila. Mila bersyukur bisa membayar uang sekolahnya. Mila memeluk Arini sekuatnya.
"Terimakasih ya, Arini"kata Mila.
"Sama-sama, Mil"
Mereka berdua berpelukan sangat lama. Air mata Arini pun turun. Ia bersyukur kepada Tuhan telah diberikan orang tua yang baik, perhatian samanya, dan memberikan apa yang ia butuhkan. Salah satunya adalah bersekolah. Sebab itu, Arini tidak ingin melihat sahabatnya itu sedih karena tak bersekolah. Apalagi Mila hanyalah anak yatim yang tinggal bersama Ibu dan adik-adiknya.
Pelukan mereka terlepas. Mereka membasuh air mata masing-masing. Kemudian Arini membuka percakapan.
"Kalau kamu butuh apa-apa lagi? Kamu cerita aja sama aku ya, Mil. Nanti aku ceritakan pada Ibu dan Ayahku. Pasti mereka berdua mau menolong kamu"kata Arini sambil memegang tangan Mila.
"Sekali lagi terima kasih ya, Rin. Kamu baik sekali kepadaku"
"Sama-sama, Mil"
Selepas kejadian itu, Arini menceritakan kisah itu kepada Ibu dan Ayahnya di rumah. Ibunya Arini terharu mendengar kisah anaknya itu dan  menyuruh Arini untuk mengajak Mila ke rumah mereka. Ayahnya Arini juga ingin sekali melihat kondisi keluarga Mila.
Besok harinya di sekolah. Arini mengajak Mila main ke rumahnya.
"Ibuku ingin sekali ketemu denganmu, Mil. Ayahku juga"
"Nanti mereka marah kepadaku"
"Orang tua ku baik, kok. Kamu jangan takut ya, Mil"
Sepulang sekolah mereka ke rumahnya Arini. Ibu Arini menyambut kedatangan putrinya itu dan Mila. Ibu Arini mengajak Mila masuk ke dalam runah dan mengajak makan siang juga. Ibunya Arini pengen Mila tinggal di rumah mereka sehari ini aja. Namun, Mila menolak. Karena besok pagi ia harus memasak sarapan untuk adik-adiknya. Ibunya Arini memaklumi hal tersebut dan membiarkan Mila pulang. Sebelum Mila pulang, Ibunya Arini mengajak Mila dan Ibunya untuk tinggal di rumah mereka.
Mila pulang ke rumahnya. Kemudian Mila menceritakan hal tersebut. Ibunya Mila setuju. Dan mulai hari itu mereka tinggal di rumah Arini tinggal bersama Arini dan kedua orang tuanya.
#Tamat!!


SARI SYAHURI

SMA NEGERI 2 RANTAU SELATAN, LABUHAN BATU